JEBAKAN
TEMPURUNG
Oleh
Agus Sujianto
Menyusuri lorong-lorong perpustakaan tua di salah
satu kota pendidikan menjadi hal yang tak biasa bagi seorang mahasiswa pemalas sepertiku.
Betapa tidak, keramaian kehidupan kota, keriuhan suasana kampus dan celoteh
para pejabat tak dapat kutemukan di sini. Hanya beberapa orang yang berdiri di
setiap etalase tempat buku-buku bersampul plastik itu yang dapat kupandang dari
pintu masuk ruangan tersebut, tiada canda di antara mereka, tiada gurau dan
senyum tegur sapa, bahkan tidak untuk saling melirik siapa yang mendekat. Pria
tua berkacamata tebal yang sedari tadi kuperhatikan sibuk membolak-balik lembar
demi lembar buku bersampul oranye tiba-tiba sadar akan langkah kaki dan segera
memandangku lalu melemparkan senyuman yang kutangkap sebagai sinyal menerima
kedatanganku. Kalau saja tidak ada tugas mendadak dari salah satu dosen di
kampusku, aku tak akan pergi ketempat sesepi ini, banyak manusia tapi tak
saling menyapa, entah apa yang mereka lakukan kadang tersenyum sendiri, kadang
mengigit bibir dan tak jarang meremas rambutnya. Ya begitulah kehidupan di
dalam perpustakaan yang kukunjungi.
Saat kupandangi tangan-tangan yang memegang beberapa
buku yang kemudian kutahu itu adalah karya-karya sastra yang saat ini menjadi
ikon karya sastra yang digilai oleh remaja-remaja Indonesia, entah mengapa aku
tak tartarik dengan beberapa novel semacam perahu
kertas, ksatria putri, bintang jatuh dan entah apalagi judul-judul buku
yang ada pada genggaman mereka. Tanpa kusadari perhatianku teralihkan pada
tumpukan buku-buku di bagian bawah pojok rak yang sedari tadi kupegangi.
Barisan buku-buku berdebu, usang, dan bersampul pucat ini kuperkirakan jarang
dijamah oleh pengunjung perpustakaan karena debu-debunya cukup tebal melapisi
sampulnya. Tempurung, Kenanga, dan Tarian Bumi serta beberapa karya sastra
milik sastrawan-sastrawan setempat atau sastrawan lokal yang ternyata didebui. Kenyataannya
pusat juga berpengaruh terhadap karya sastra, apa yang muncul di pusat entah
mengapa cepat naik daun apabila dibandingkan dengan apa yang terlahir di daerah
lokal.
Dalam masa perkembangannya, sastra pusatlah yang
memengaruhi kehadiran sastra lokal. Sastra pusat merupakan sastra yang
berkembang di pusat negara dengan segala fasilitas pendukungnya, sedangkan
sastra lokal adalah sastra yang berada di daerah. Dari segi fasilitas
pendukung, sastra pusat jauh lebih maju daripada sastra lokal. Ini bukanlah
sesuatu yang mengherankan. Begitu pula dari segi publikasi, sastra pusat masih mendominasi
publisitas sastra lokal. Banyak peneliti sastra serta kritikus sastra lebih
cenderung meneliti karya sastra pusat dibandingkan sastra lokal. Tak banyak
yang bisa diperbuat sastra lokal untuk bisa bertahan dan lepas dari tekanan atau
prestise sastra pusat. Inilah “efek
samping” berlakunya politik sastra di Indonesia.
Salah
satu sastrawan yang menerbitkan buku politik sastra, Saut Situmorang, mengkritisi
bagaimana sastra dipolitisasi sedemikian rupa dari masa ke masa. “Penyair di
Indonesia tidak lepas dari politik, di luar politik tidak ada apa-apa”, ungkap
Saut Situmorang. Banyak
pembahasan tentang “politik” dan sastra, “sastra dan
kekuasaan,” oleh kritikus sastra Indonesia. Pembahasan
itu antara lain “Manusia dan Politik,” oleh Wiratmo Soekito; “Sastra dan Politik,”
oleh Achdiyat K. Mihardja; “Peristiwa Manikebu
Kesusastraan Indonesia dan Politik di Tahun 1960-an,” oleh Goenawan Mohammad.
Politik sastra itu tidak mengacu kepada pengertian
politik di dalam sastra, tetapi suatu dasar dan suatu kebijakan di dalam pembinaan dan
pengembangan sastra. Berdasarkan pengertian politik
sastra ini dapat dipahami bahwa di dalamnya terdapat dua unsur penting, yaitu (1) politik
pembinaan sastra dan, (2) politik pengembangan sastra.
Tiap zaman memiliki “rasanya” sendiri. Contohkan
saja beberapa sastra yang berkembang di berbagai daerah di Indonesia. Penulis asal
Bali seperti Oka Rusmini, menggebrak nilai-nilai budaya yang disakralkan di
Bali seperti masalah kasta. Kasta, dalam budaya Bali adalah sebuah sisi
pribadi, yang seharusnya menjadi konsumsi orang Bali, kini bisa diketahui
segala sisi baik-buruknya lewat tulisannya, seperti Tempurung, Kenanga, dan Tarian
Bumi. Dalam sistem kasta, kasta Brahmana sebagai kasta tertinggi dan
termulia digambarkan sebagai kasta yang juga memiliki kelakuan layakya penguasa
dan penindas, terutama terhadap kaum perempuan. Di luar Bali, Ahmad Tohari,
penulis asal Banyumas, mengungkapkan ketidakberesan perpolitikan Indonesia yang
berimbas pada kekacauan pada sebuah daerah bernama “Dukuh Paruk”. Pemanfaatan
media budaya ronggeng dalam masa perluasan pengaruh PKI pada masa itu merupakan
hal yang diungkapkan secara apa adanya. Pengangkatan tema-tema kedaerahan dan
pemaparan “kebrobrokan” sistem menjadi isu baru yang menarik dan menunjang
eksistensi sastra lokal. Ini kalau dilihat dari segi tema atau sudut pandang
penceritaan. Jika sudah seperti ini, kearifan lokal yang dianggap sebagai tema sederhana
ternyata dapat memberikan kesan baru dan segar mengenai presentasi kehidupan
dan tampilan rasa pengarang terhadap fenomena sosial. Seharusnya, bukan tak
mungkin sastra lokal kalah “gengsi” dari sastra pusat.
Politik sastra di Indonesia berjalan terlalu
efektif. Entah sudah disadari atau belum oleh kebanyakan pengarang di negeri
ini. Mengapa sastra pusat lebih fenomenal dibandingkan sastra lokal? Apa karena
banyak yang meneliti, ideologi yang kuat, atau karena kesegaran temanya? Dewi Lestari atau “Dee” dengan karya yang
demikian, jauh lebih terkenal dan diberitakan secara “wah” di beberapa media
online dibandingkan karya Oka Sukanta, yang juga memiliki karya yang patut
diperhitungkan. Dalam politik sastra Indonesia, banyak kewajaran yang mereka
lakukan berdampak negatif bagi sastrawan potensial lainnya. Mungkin merupakan
sesuatu yang “wajar” bahwa seorang
penyair selebriti di media massa mewakili penyair Indonesia dalam berbagai
program baca puisi. Bagi mereka, “wajar” bila seorang penulis yang baru
menerbitkan cerpennya, dalam setahun dua tahun, diklaim sebagai “monalisa”
sastra Indonesia.
Kewajaran yang dipaksa “wajar” itu benar-benar bukan
pilihan yang baik. Apa bedanya cerita penindasan yang ditulis oleh Oka Rusmini
dan kisah penindasan yang digambarkan oleh “Dee”? Gaya penceritaan oleh Oka
Rusmini bahkan jauh lebih ekspresif. Kenapa itu diwajarkan? Inilah yang perlu
diperhatikan secara “wajar” oleh para pakar yang menjalankan politik sastra
Indonesia.
Mengamati demikian buruknya politik sastra, diperlukan politik atau kebijakan pembinaan sastra yang lebih
sistematis. Pembinaan ini berkenaan dengan kualitas sastrawan
sekaligus karyanya. Pembinaan ini juga ditimpali oleh pengembangan sastra bahwa
politik
pengembangan sastra itu seharusnya berisi tentang
penempatan karya sastra sebagai sasaran
atau objek kegiatan yang akan diteliti dan dikaji. Bukan hanya karena sastra itu lebih publish dibandingkan yang lain, sebagai
alasan banyaknya dikaji, namun dari segi isi, kualitas, dan kuantitas, sastra
lokal pun mampu, bahkan tak kalah dalam menyajikan fenomena tertentu, seperti
kebudayaan, kemanusiaan, dan lain-lain. Inilah
yang patutnya diupayakan dan dipertanggungjawabkan oleh para
kritikus
sastra, pakar sastra, dan peneliti sastra. Dengan
demikian, mereka dapat merumuskan fungsi,
kedudukan, dan tujuan pengembangan sastra Indonesia masa depan.
Mengingat-ingat perkembangan tumpang tindih kedua
sastra tersebut membuatku lupa diri memandangi tumpukan-tumpukan buku berdebu
ini dan tanpa kusadari hilir mudik manusia tanpa suara yang di tangannya
memegang buku kini hanya tingal segelintir saja. Bahkan, pria tua berkacamata
yang tadi sempat melemparkan senyumnya kini tak lagi sibuk membolak-balik
lembar demi lembar buku oranye lagi, tapi sibuk menutup gorden-gorden di setiap
sudut jendela yang ada dalam bangunan tua ini. Kembali dia menolehku dan
tersenyum sambil menganggut-anggutkan kepalanya menyiratkan bahwa tempat ini
akan tutup. Meskipun aku gagal mencari buku yang menjadi bahan tugasku, namun
aku tetap merasa berhasil karena membawa pulang beberapa buku berdebu yang terjebak
dalam kungkungan kelokalannya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar