Minggu, 08 September 2013



BELAJAR DARI KOTORAN AYAM
Sebuah esai kisah karya Agus Sujianto.
Pagi itu aku menyusuri jalan setapak yang masih penuh oleh kristal-kristal embun di setiap dedaunan yang berbaris sepanjang jalan. Aku akan menghabiskan beberapa hari liburanku di sebuah peternakan1 milik pamanku yang berada di kabupaten Tabanan-Bali bersama anaknya atau keponakan laki-lakiku yang usianya dua tahun lebih tua dariku. Disanalah rencanaku untuk menghilangkan rasa penat dari hiruk pikuk kehidupan kampus. Peternakan itu dibangun bebarapa tahun lalu dan kini sudah mempekerjakan setidaknya 7 pemuda setempat. Suara cicit anak ayam dan aroma kotoran ayam menandakan langkahku tak jauh lagi dari peternakan sekaligus kediaman pamanku. Disinilah kuawali sebuah perjalan menarik yang membuat keyakinanku terhadap mahasiswa, atau lebih tepatnya dunia pendidikan mulai goyah bahkan akan runtuh.
Mahasiswa konon adalah kaum intelek yang hidup dengan pengetahuan, moral, etika, dan solidaritas yang tinggi antarsesama, itulah yang membuatku bangga menjadi seorang mahasiswa terlebih mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi negeri. Mereka selalu bangga dengan kehidupan yang serba elit mulai dari gedung-gedung megah yang dibangunkan pemerintah, hingga lipatan jas-jas almamater bekas setrika yang masih jelas terlihat saat dikenakan. Mereka (mahasiswa) sengaja dipersiapkan pemerintah untuk memimpin negeri ini kelak, untuk membangun negeri ini, dan selalu diagung-agungkan menjadi ujung tombak keberhasilan suatu bangsa. Itulah aku, mahasiswa yang selalu bangga menjadi pionir pemerintah dan bangsa ini.
Sesampainya di peternakan aku disambut sebuah peluk hangat oleh pamanku dan senyum manis serta salam dari setiap pekerja yang saat itu masih sibuk membersihkan kandang-kandang ayam. Aku dikejutkan dengan tepukan keponakanku yang kini tumbuh bagaikan seorang bos dengan sepatu bootnya dan beberapa kertas serta kalkulator di tangannya. Dengan sabar dan teliti ia menjelaskan kepadaku satu persatu detail peternakan dan kegiatan rutin di peternakan ini. Ia menjelaskan bagaimana memvaksin ayam yang sedang sakit, memandikan anak ayam, membersihkan kotoran ayam, dan tiba-tiba ia menoleh ke arahku sambil berkata, “ayo cobalah ambil sekup itu dan keruk kotoran ayam di sebelah sana!”. Aku kaget dan terperangah mendengar kata-katanya. Aku tak bisa membayangkan kotoran-kotoran ayam yang berbau busuk dan menyengat ini harus kubersihkan. Ya! Aku mahasiswa dan ini tabu untukku, aku tidak dipersiapkan seperti ini dan aku tak pernah belajar seperti ini, ini hanya akan membuatku sakit karena kuman-kuman dalam kotoran itu. Belum lagi kalau aku kena virus flu burung, belum lagi kalau baju kesayanganku terkena kotoran ayam. “Aku memang tak disiapkan untuk yang seperti ini”, seruku sekali lagi dalam benakku.
Kampus tempatku menimba ilmu saat ini, tidak pernah sekalipun mengajarkan hal-hal menjijikan seperti ini. Aku selalu diajarkan hidup bersih dan sehat, aku selalu senang mendengarkan ceramah dosenku yang selalu bangga dengan perjalanannya keliling Indonesia dalam rangka seminar dan memperkenalkan metode pembelajaran baru atau risetnya, dan aku ingin seperti beliau. Menjadi mahasiswa di salah satu PTN membuatku menghabiskan 75% waktu yang kumiliki untuk di kampus guna kuliah di kelas, rapat organisasi, ke perpustakaan,  mengerjakan tugas-tugas, dan itulah tugas mahasiswa ideal bagiku dulu.
“Ayolah, sekarang kamu keponakanku. Bukan mahasiswa berjas yang harus jaim dan merasa pintar, karena kamu tidak berada di kampus. Kamu berada di peternakan!”, kata keponakanku mengejek. Ejekan itu bagaikan sambaran petir di siang bolong yang tak disangka kedatangannya. Namun, aku berterimakasih karena ejekan itulah yang menyadarkanku bahwa kehidupan kampus selama ini tanpa kusadari telah menciptakan jurang pemisah antara aku dan kehidupan di dunia luar yang begitu indah dan luar biasa. Bagiku, menjadi mahasiswa berprestasi, aktif di berbagai organisasi kampus, dan menjadi mahasiswa kesayangan dosen adalah konsep mahasiswa ideal. Namun, ternyata hal itu salah karena ada hal yang jauh lebih penting untuk dijadikan dasar sebagai konsep mahasiswa ideal, bukan menguasai berbagai teori, bukan menjadi pemimpin sebuah organisasi penting di kampus, bukan karena lulus cumlaude, dan bukan pula karena risetnya didanai pemerintah, akan tetapi lebih kepada kemampuan untuk membaca dunia luar, dunia yang tak pernah kita temui di kelas-kelas gedung megah itu.
Mampu membaca dunia luar, itulah yang diajarkan oleh kotoran ayam kepadaku, sedangkah hal itu tidak pernah sekalipun kudapatkan di kampus, aku hanya diajarkan untuk membaca berpuluh-puluh literatur yang sangat tebal dan disibukkan oleh ideologi-ideologi yang harus kami turuti. Fenomena apa yang sebenarnya diciptakan oleh dunia pendidikan saat ini? Mengapa seseorang yang hanya lulusan sekolah dasar, bisa berhitung dan membaca, bahkan lebih mampu membaca kebutuhan & tantangan zaman, sedangkan beribu-ribu rekanku yang lulus dengan gelar S,Pd., S.Kom., S.S., S.H., S.E., S.IP., S.Sos, S.Psi., S.Ked., S.KG., S.TP., S.Hut., S.Sn., dan masih banyak lagi gelar-gelar lain, kini hanya sibuk membawa surat lamaran kesana-kemari bahkan setingkat lebih tragis dari itu ada yang sampai bunuh diri. Jawabannya ada pada kegagalan mereka dalam membaca tantangan dan tuntutan zaman saat ini.
Lamunanku kembali terpecahkan saat pamanku datang dan berkata, “Buat apa kuliah Nak, hanya buang-buang waktu dan duit saja. Yang ada kamu nanti malah menjadi pengangguran pintar”. Kembali aku disentil dengan kata Pengangguran Pintar. Lalu timbul seribu pertanyaan, mengapa orang pintar menganggur? Apakah zaman sudah tidak membutuhkan orang pintar lagi? Lalu buat apa mereka kuliah?
Kegagalan dunia pendidikan dalam membentuk mahasiswanya mulai tampak saat insan yang dibentuk menjadi orang cerdas atau berintelektual tinggi memiliki jarak dengan dunia luar, mahasiswa akan merasa gengsi saat melakukan pekerjaan orang biasa yang bisa dipelajari tanpa kuliah, ini kenyataan! Tidak hanya itu, kampus tidak pernah mengajarkan mahasiswanya untuk belajar membaca dunia luar. Mahasiswa hanya disibukkan dengan pemahaman dan pendalaman teori-teori kaku yang ada dalam literatur-literatur berdebu, itu realita! Padahal, zaman tidak menginginkan orang cerdas yang tak bisa membaca dunia luar. Zaman lebih memilih orang biasa yang mampu membaca kebutuhan dunia luar, sehingga mampu survive dalam kerasnya kompetisi hidup ini. Pengangguran pintar ada karena mantan mahasiswa atau sarjana-sarjana lulusan PTN/PTS tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan atau teori-teorinya yang didapat dari kampus di dunia luar. Hal ini terjadi karena saat menjadi mahasiswa, mereka tak pernah memiliki kesempatan banyak untuk mengintip dunia luar, sehingga teori yang didapatkan dari literatur-literatur berdebu tersebut tidak sesuai dengan keadaan dunia luar saat ini, alhasil mereka menganggur, ini fakta! Butuh berapa fakta lagi untuk menyadarkan kaum berjas almamater, bahwa saat ini mereka ada dalam kungkungan universitas yang sedang menciptakankan jarak pemisah antara dunia mereka dan dunia luar tempat masyarakat hidup sebenarnya. Aku mulai ragu dengan paradigma yang dianut kampusku setalah mendengar beberapa sentilan pahit mereka dan kotoran ayam yang tak mampu aku bersihkan, karena aku adalah mahasiswa.
Lalu bagaimana menjadi mahasiswa yang ideal? Bagaimana kita bisa membaca tuntutan dan tantangan dunia luar? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan muncul saat kehakikian dunia pendidikan dipertanyakan dan diobrak-abrik. Mahasiswa ideal menurut pandangan bodoh saya adalah mahasiswa yang berhasil di dalam dan di luar kampus ; berhasil saat dan setelah kuliah. Berhasil saat dan setelah kuliah, ini berarti ada dua aspek yang perlu diperhatikan. Aspek pertama adalah berhasil saat menjadi mahasiswa atau dengan kata lain tentu kita harus mempelajari dan memperdalam teori-teori tertentu, aktif di berbagai organisasi, dan bisa lulus dengan predikat mahasiswa berprestasi. Namun, itu semua adalah replika keberhasilan sesungguhnya. Aspek kedua yang menjadi penentu keberhasilan atau keidealan mahasiswa adalah berhasil setelah selesai kuliah (sarjana). Berhasil setelah selesai kuliah atau saat menjadi sarjana kenyataannya lebih sulit apabila dibandingkan dengan keberhasilan saat menjadi mahasiswa, dan kebanyakan pengangguran pintar tercipta pada aspek kedua ini. Hal ini disebabkan seperti yang telah diulas di atas tadi, karena sarjana tidak mampu membaca dunia luar karena saat kuliah hanya belajar di lingkungan kampus, sarjana sangat fanatik dengan kehidupan luar dan sebagainya. Kemudian untuk mampu membaca tantangan serta tuntutan zaman, nampaknya perlu sedikit perombakan terhadap paradigma dunia pendidikan yang berkembang di kampus-kampus saat ini. Hal yang saya maksud adalah kampus seyogyanya tidak hanya mencekoki mahasiswanya dengan teori-teori kaku saja, melainkan juga mengajarkan bagaimana cara mengaplikasikannya di dunia luar. Berbicara masalah mengaplikasikan teori yang diperoleh di kampus pada dunia luar, tentu pihak kampus haruslah berpikir kembali untuk tidak melakukan pembelajaran di dalam kelas saja, tetapi juga di luar kelas pada tiap semester. Kuliah di luar kelas pada tiap semester ini bertujuan untuk mengikuti perkembangan dunia luar, karena dunia luar itu tidak statis perkembangannya. 8 dari 10 mahasiswa yang saya temui (riset sederhana dengan kuisioner) mengatakan lebih suka belajar di luar kelas, karena selain bisa mengaplikasikan berbagai teori yang diperoleh di kampus, dunia luar juga menyediakan pengetahuan yang kompleks dan tidak dimiliki oleh kampus.
Beberapa hari menghabiskan waktu di peternakan aku mendapatkan kuliah yang sebenarnya, kuliah yang tidak pernah kudapatkan di kampus megahku. Saat tulisan ini selesai digarap, aku sudah biasa dan tidak canggung lagi  membersihkan kotoran ayam, karena disanalah jarak yang kumiliki dengan kehidupan luar yang tanpa kusadari tercipta saat aku menjadi mahasiswa sedikit demi sedikit mulai terkikis. Dari kotoran ayam pulalah aku belajar memposisikan diri, kapan menjadi mahasiswa dan kapan menjadi angota masyarakat sosial lainnya karena itulah salah satu poin penting untuk menjadi mahasiswa ideal.
***

 

1. Peternakan Adi Mulya milik Suhermanto di desa Durentaluh-Tabanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar