BELAJAR
DARI KOTORAN AYAM
Sebuah
esai kisah karya Agus Sujianto.
Pagi itu aku menyusuri jalan
setapak yang masih penuh oleh kristal-kristal embun di setiap dedaunan yang
berbaris sepanjang jalan. Aku akan menghabiskan beberapa hari liburanku di
sebuah peternakan1 milik pamanku yang berada di kabupaten
Tabanan-Bali bersama anaknya atau keponakan laki-lakiku yang usianya dua tahun
lebih tua dariku. Disanalah rencanaku untuk menghilangkan rasa penat dari hiruk
pikuk kehidupan kampus. Peternakan itu dibangun bebarapa tahun lalu dan kini
sudah mempekerjakan setidaknya 7 pemuda setempat. Suara cicit anak ayam dan
aroma kotoran ayam menandakan langkahku tak jauh lagi dari peternakan sekaligus
kediaman pamanku. Disinilah kuawali sebuah perjalan menarik yang membuat
keyakinanku terhadap mahasiswa, atau lebih tepatnya dunia pendidikan mulai goyah
bahkan akan runtuh.
Mahasiswa konon adalah
kaum intelek yang hidup dengan pengetahuan, moral, etika, dan solidaritas yang tinggi
antarsesama, itulah yang membuatku bangga menjadi seorang mahasiswa terlebih
mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi negeri. Mereka selalu bangga dengan
kehidupan yang serba elit mulai dari gedung-gedung megah yang dibangunkan
pemerintah, hingga lipatan jas-jas almamater bekas setrika yang masih jelas
terlihat saat dikenakan. Mereka (mahasiswa) sengaja dipersiapkan pemerintah
untuk memimpin negeri ini kelak, untuk membangun negeri ini, dan selalu
diagung-agungkan menjadi ujung tombak keberhasilan suatu bangsa. Itulah aku,
mahasiswa yang selalu bangga menjadi pionir pemerintah dan bangsa ini.
Sesampainya di
peternakan aku disambut sebuah peluk hangat oleh pamanku dan senyum manis serta
salam dari setiap pekerja yang saat itu masih sibuk membersihkan
kandang-kandang ayam. Aku dikejutkan dengan tepukan keponakanku yang kini
tumbuh bagaikan seorang bos dengan sepatu bootnya dan beberapa kertas serta
kalkulator di tangannya. Dengan sabar dan teliti ia menjelaskan kepadaku satu
persatu detail peternakan dan kegiatan rutin di peternakan ini. Ia menjelaskan
bagaimana memvaksin ayam yang sedang sakit, memandikan anak ayam, membersihkan
kotoran ayam, dan tiba-tiba ia menoleh ke arahku sambil berkata, “ayo cobalah
ambil sekup itu dan keruk kotoran ayam di sebelah sana!”. Aku kaget dan
terperangah mendengar kata-katanya. Aku tak bisa membayangkan kotoran-kotoran
ayam yang berbau busuk dan menyengat ini harus kubersihkan. Ya! Aku mahasiswa
dan ini tabu untukku, aku tidak dipersiapkan seperti ini dan aku tak pernah
belajar seperti ini, ini hanya akan membuatku sakit karena kuman-kuman dalam
kotoran itu. Belum lagi kalau aku kena virus flu burung, belum lagi kalau baju
kesayanganku terkena kotoran ayam. “Aku memang tak disiapkan untuk yang seperti
ini”, seruku sekali lagi dalam benakku.
Kampus tempatku menimba
ilmu saat ini, tidak pernah sekalipun mengajarkan hal-hal menjijikan seperti
ini. Aku selalu diajarkan hidup bersih dan sehat, aku selalu senang mendengarkan
ceramah dosenku yang selalu bangga dengan perjalanannya keliling Indonesia
dalam rangka seminar dan memperkenalkan metode pembelajaran baru atau risetnya,
dan aku ingin seperti beliau. Menjadi mahasiswa di salah satu PTN membuatku
menghabiskan 75% waktu yang kumiliki untuk di kampus guna kuliah di kelas,
rapat organisasi, ke perpustakaan,
mengerjakan tugas-tugas, dan itulah tugas mahasiswa ideal bagiku dulu.
“Ayolah, sekarang kamu keponakanku.
Bukan mahasiswa berjas yang harus jaim dan merasa pintar, karena kamu tidak
berada di kampus. Kamu berada di peternakan!”, kata keponakanku mengejek.
Ejekan itu bagaikan sambaran petir di siang bolong yang tak disangka
kedatangannya. Namun, aku berterimakasih karena ejekan itulah yang
menyadarkanku bahwa kehidupan kampus selama ini tanpa kusadari telah
menciptakan jurang pemisah antara aku dan kehidupan di dunia luar yang begitu
indah dan luar biasa. Bagiku, menjadi mahasiswa berprestasi, aktif di berbagai
organisasi kampus, dan menjadi mahasiswa kesayangan dosen adalah konsep
mahasiswa ideal. Namun, ternyata hal itu salah karena ada hal yang jauh lebih
penting untuk dijadikan dasar sebagai konsep mahasiswa ideal, bukan menguasai
berbagai teori, bukan menjadi pemimpin sebuah organisasi penting di kampus,
bukan karena lulus cumlaude, dan bukan pula karena risetnya didanai pemerintah,
akan tetapi lebih kepada kemampuan untuk membaca dunia luar, dunia yang tak
pernah kita temui di kelas-kelas gedung megah itu.
Mampu membaca dunia
luar, itulah yang diajarkan oleh kotoran ayam kepadaku, sedangkah hal itu tidak
pernah sekalipun kudapatkan di kampus, aku hanya diajarkan untuk membaca
berpuluh-puluh literatur yang sangat tebal dan disibukkan oleh ideologi-ideologi
yang harus kami turuti. Fenomena apa yang sebenarnya diciptakan oleh dunia
pendidikan saat ini? Mengapa seseorang yang hanya lulusan sekolah dasar, bisa
berhitung dan membaca, bahkan lebih mampu membaca kebutuhan & tantangan
zaman, sedangkan beribu-ribu rekanku yang lulus dengan gelar S,Pd., S.Kom., S.S., S.H., S.E., S.IP.,
S.Sos, S.Psi., S.Ked., S.KG., S.TP., S.Hut., S.Sn., dan masih
banyak lagi gelar-gelar lain, kini hanya sibuk membawa surat lamaran
kesana-kemari bahkan setingkat lebih tragis dari itu ada yang sampai bunuh
diri. Jawabannya ada pada kegagalan mereka dalam membaca tantangan dan tuntutan
zaman saat ini.
Lamunanku kembali
terpecahkan saat pamanku datang dan berkata, “Buat apa kuliah Nak, hanya buang-buang
waktu dan duit saja. Yang ada kamu nanti malah menjadi pengangguran pintar”.
Kembali aku disentil dengan kata Pengangguran
Pintar. Lalu timbul seribu pertanyaan, mengapa orang pintar menganggur?
Apakah zaman sudah tidak membutuhkan orang pintar lagi? Lalu buat apa mereka
kuliah?
Kegagalan dunia
pendidikan dalam membentuk mahasiswanya mulai tampak saat insan yang dibentuk
menjadi orang cerdas atau berintelektual tinggi memiliki jarak dengan dunia
luar, mahasiswa akan merasa gengsi saat melakukan pekerjaan orang biasa yang
bisa dipelajari tanpa kuliah, ini kenyataan! Tidak hanya itu, kampus tidak
pernah mengajarkan mahasiswanya untuk belajar membaca dunia luar. Mahasiswa
hanya disibukkan dengan pemahaman dan pendalaman teori-teori kaku yang ada
dalam literatur-literatur berdebu, itu realita! Padahal, zaman tidak
menginginkan orang cerdas yang tak bisa membaca dunia luar. Zaman lebih memilih
orang biasa yang mampu membaca kebutuhan dunia luar, sehingga mampu survive dalam kerasnya kompetisi hidup
ini. Pengangguran pintar ada karena mantan mahasiswa atau sarjana-sarjana
lulusan PTN/PTS tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan atau teori-teorinya
yang didapat dari kampus di dunia luar. Hal ini terjadi karena saat menjadi
mahasiswa, mereka tak pernah memiliki kesempatan banyak untuk mengintip dunia
luar, sehingga teori yang didapatkan dari literatur-literatur berdebu tersebut
tidak sesuai dengan keadaan dunia luar saat ini, alhasil mereka menganggur, ini
fakta! Butuh berapa fakta lagi untuk menyadarkan kaum berjas almamater, bahwa
saat ini mereka ada dalam kungkungan universitas yang sedang menciptakankan
jarak pemisah antara dunia mereka dan dunia luar tempat masyarakat hidup
sebenarnya. Aku mulai ragu dengan paradigma yang dianut kampusku setalah
mendengar beberapa sentilan pahit mereka dan kotoran ayam yang tak mampu aku
bersihkan, karena aku adalah mahasiswa.
Lalu bagaimana menjadi
mahasiswa yang ideal? Bagaimana kita bisa membaca tuntutan dan tantangan dunia
luar? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan muncul saat kehakikian dunia
pendidikan dipertanyakan dan diobrak-abrik. Mahasiswa ideal menurut pandangan
bodoh saya adalah mahasiswa yang berhasil di dalam dan di luar kampus ;
berhasil saat dan setelah kuliah. Berhasil saat dan setelah kuliah, ini berarti
ada dua aspek yang perlu diperhatikan. Aspek pertama adalah berhasil saat
menjadi mahasiswa atau dengan kata lain tentu kita harus mempelajari dan
memperdalam teori-teori tertentu, aktif di berbagai organisasi, dan bisa lulus
dengan predikat mahasiswa berprestasi. Namun, itu semua adalah replika
keberhasilan sesungguhnya. Aspek kedua yang menjadi penentu keberhasilan atau
keidealan mahasiswa adalah berhasil setelah selesai kuliah (sarjana). Berhasil
setelah selesai kuliah atau saat menjadi sarjana kenyataannya lebih sulit apabila
dibandingkan dengan keberhasilan saat menjadi mahasiswa, dan kebanyakan
pengangguran pintar tercipta pada aspek kedua ini. Hal ini disebabkan seperti
yang telah diulas di atas tadi, karena sarjana tidak mampu membaca dunia luar
karena saat kuliah hanya belajar di lingkungan kampus, sarjana sangat fanatik
dengan kehidupan luar dan sebagainya. Kemudian untuk mampu membaca tantangan
serta tuntutan zaman, nampaknya perlu sedikit perombakan terhadap paradigma
dunia pendidikan yang berkembang di kampus-kampus saat ini. Hal yang saya
maksud adalah kampus seyogyanya tidak hanya mencekoki mahasiswanya dengan
teori-teori kaku saja, melainkan juga mengajarkan bagaimana cara
mengaplikasikannya di dunia luar. Berbicara masalah mengaplikasikan teori yang
diperoleh di kampus pada dunia luar, tentu pihak kampus haruslah berpikir
kembali untuk tidak melakukan pembelajaran di dalam kelas saja, tetapi juga di
luar kelas pada tiap semester. Kuliah di luar kelas pada tiap semester ini
bertujuan untuk mengikuti perkembangan dunia luar, karena dunia luar itu tidak
statis perkembangannya. 8 dari 10 mahasiswa yang saya temui (riset sederhana
dengan kuisioner) mengatakan lebih suka belajar di luar kelas, karena selain bisa
mengaplikasikan berbagai teori yang diperoleh di kampus, dunia luar juga
menyediakan pengetahuan yang kompleks dan tidak dimiliki oleh kampus.
Beberapa hari
menghabiskan waktu di peternakan aku mendapatkan kuliah yang sebenarnya, kuliah
yang tidak pernah kudapatkan di kampus megahku. Saat tulisan ini selesai digarap,
aku sudah biasa dan tidak canggung lagi membersihkan kotoran ayam, karena disanalah
jarak yang kumiliki dengan kehidupan luar yang tanpa kusadari tercipta saat aku
menjadi mahasiswa sedikit demi sedikit mulai terkikis. Dari kotoran ayam
pulalah aku belajar memposisikan diri, kapan menjadi mahasiswa dan kapan
menjadi angota masyarakat sosial lainnya karena itulah salah satu poin penting untuk
menjadi mahasiswa ideal.
***
1. Peternakan Adi Mulya
milik Suhermanto di desa Durentaluh-Tabanan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar