Selasa, 20 Januari 2015

KOMET IKEYA-SEKI DI MATA WARGA ROGOJAMPI
Komet Ikeya-Seki yang memiliki kode C/1965 S1 adalah priode kedatangan Komet terpanjang dan terlama yang pernah terlihat dari Bumi. Komet ini pertama sekali teramati oleh dua astronomer Jepang bernama Kaoru Ikeya dan Tsutomu Seki sebagai objek teleskopik samar pada 18 September 1965. Dari perhitungan kedua astronom tersebut, diperkirakan dari orbitnya bahwa pada tanggal 21 Oktober komet ini akan bergerak melalui matahari dengan jarak yang dekat sekali yaitu 450.000 Km di atas permukaan matahari. Komet ini merupakan bagian dari Kreutz Sun Grazers dan akan tampak terang dan jelas sekali terlihat dari bumi. Perhitangan tersebut tepat, Komet Ikeya-Seki itu betul-betul menampakkan diri tepat sesuai dengan prediksi dan hadir sebagai Komet paling terang yang pernah terlihat sepanjang sejarah modern dunia dengan panjang ekornya mencapai 112.654.080 KM.
Kehadiran Komet Ikeya-Seki yang dapat dilihat secara mata telanjang dan penampakannya berlangsung berhari-hari membuat beredar isu kala itu bahwa akan terjadi sebuah mala petaka besar. Isu itu kian membuat ngeri ketika orang-orang dapat menyaksikan secara jelas ekor Komet Ikeya-Seki yang tampak begitu besar dan seolah-olah akan membelah angkasa. Sampai saat ini kedatangan Komet Ikeya-Seki juga selalu dikait-kaitkan dengan Hari Kiamat oleh sebagian besar masyarakat pedalaman di Indonesia. Salah satunya adalah masyarakat di desa Rogojampi – Banyuwangi. Masyarakat tersebut selalu melakukan ritual tertentu jika ada benda-benda aneh yang muncul di langit seperti komet tersebut. Dimulai dengan arak-arakan ayam wengi (hitam) yang telah disembelih keliling kampung dan diiringi dengan bunyi-bunyian terompet suket (rumput). Ini bertujuan untuk mengusir bala (hal yang tidak diinginkan) menimpa kampung mereka. Paradigma ini tentu terlihat konyol di jaman modern ini, tetapi ritual unik ini selalu mengundang wisatawan lokal dan mancanegara untuk menikmati rentetan suguhan-suguhan ritual yang dilakukan oleh masyarakat desa tersebut.

Dikutip dari brainly.com dengan pengubahan seperlunya

Minggu, 08 September 2013



JEBAKAN TEMPURUNG
Oleh Agus Sujianto
Menyusuri lorong-lorong perpustakaan tua di salah satu kota pendidikan menjadi hal yang tak biasa bagi seorang mahasiswa pemalas sepertiku. Betapa tidak, keramaian kehidupan kota, keriuhan suasana kampus dan celoteh para pejabat tak dapat kutemukan di sini. Hanya beberapa orang yang berdiri di setiap etalase tempat buku-buku bersampul plastik itu yang dapat kupandang dari pintu masuk ruangan tersebut, tiada canda di antara mereka, tiada gurau dan senyum tegur sapa, bahkan tidak untuk saling melirik siapa yang mendekat. Pria tua berkacamata tebal yang sedari tadi kuperhatikan sibuk membolak-balik lembar demi lembar buku bersampul oranye tiba-tiba sadar akan langkah kaki dan segera memandangku lalu melemparkan senyuman yang kutangkap sebagai sinyal menerima kedatanganku. Kalau saja tidak ada tugas mendadak dari salah satu dosen di kampusku, aku tak akan pergi ketempat sesepi ini, banyak manusia tapi tak saling menyapa, entah apa yang mereka lakukan kadang tersenyum sendiri, kadang mengigit bibir dan tak jarang meremas rambutnya. Ya begitulah kehidupan di dalam perpustakaan yang kukunjungi.
Saat kupandangi tangan-tangan yang memegang beberapa buku yang kemudian kutahu itu adalah karya-karya sastra yang saat ini menjadi ikon karya sastra yang digilai oleh remaja-remaja Indonesia, entah mengapa aku tak tartarik dengan beberapa novel semacam perahu kertas, ksatria putri, bintang jatuh dan entah apalagi judul-judul buku yang ada pada genggaman mereka. Tanpa kusadari perhatianku teralihkan pada tumpukan buku-buku di bagian bawah pojok rak yang sedari tadi kupegangi. Barisan buku-buku berdebu, usang, dan bersampul pucat ini kuperkirakan jarang dijamah oleh pengunjung perpustakaan karena debu-debunya cukup tebal melapisi sampulnya. Tempurung, Kenanga, dan Tarian Bumi serta beberapa karya sastra milik sastrawan-sastrawan setempat atau sastrawan lokal yang ternyata didebui. Kenyataannya pusat juga berpengaruh terhadap karya sastra, apa yang muncul di pusat entah mengapa cepat naik daun apabila dibandingkan dengan apa yang terlahir di daerah lokal.
Dalam masa perkembangannya, sastra pusatlah yang memengaruhi kehadiran sastra lokal. Sastra pusat merupakan sastra yang berkembang di pusat negara dengan segala fasilitas pendukungnya, sedangkan sastra lokal adalah sastra yang berada di daerah. Dari segi fasilitas pendukung, sastra pusat jauh lebih maju daripada sastra lokal. Ini bukanlah sesuatu yang mengherankan. Begitu pula dari segi publikasi, sastra pusat masih mendominasi publisitas sastra lokal. Banyak peneliti sastra serta kritikus sastra lebih cenderung meneliti karya sastra pusat dibandingkan sastra lokal. Tak banyak yang bisa diperbuat sastra lokal untuk bisa bertahan dan lepas dari tekanan atau prestise sastra pusat. Inilah “efek samping” berlakunya politik sastra di Indonesia.
Salah satu sastrawan yang menerbitkan buku politik sastra, Saut Situmorang, mengkritisi bagaimana sastra dipolitisasi sedemikian rupa dari masa ke masa. “Penyair di Indonesia tidak lepas dari politik, di luar politik tidak ada apa-apa”, ungkap Saut Situmorang. Banyak pembahasan tentang “politik” dan sastra, “sastra dan kekuasaan,” oleh kritikus sastra Indonesia. Pembahasan itu antara lain “Manusia dan Politik,” oleh Wiratmo Soekito; “Sastra dan Politik,” oleh Achdiyat K. Mihardja; “Peristiwa Manikebu Kesusastraan Indonesia dan Politik di Tahun 1960-an,” oleh Goenawan Mohammad. Politik sastra itu tidak mengacu kepada pengertian politik di dalam sastra, tetapi suatu dasar dan suatu kebijakan di dalam pembinaan dan pengembangan sastra. Berdasarkan pengertian politik sastra ini dapat dipahami bahwa di dalamnya terdapat dua unsur penting, yaitu (1) politik pembinaan sastra dan, (2) politik pengembangan sastra.
Tiap zaman memiliki “rasanya” sendiri. Contohkan saja beberapa sastra yang berkembang di berbagai daerah di Indonesia. Penulis asal Bali seperti Oka Rusmini, menggebrak nilai-nilai budaya yang disakralkan di Bali seperti masalah kasta. Kasta, dalam budaya Bali adalah sebuah sisi pribadi, yang seharusnya menjadi konsumsi orang Bali, kini bisa diketahui segala sisi baik-buruknya lewat tulisannya, seperti Tempurung, Kenanga, dan Tarian Bumi. Dalam sistem kasta, kasta Brahmana sebagai kasta tertinggi dan termulia digambarkan sebagai kasta yang juga memiliki kelakuan layakya penguasa dan penindas, terutama terhadap kaum perempuan. Di luar Bali, Ahmad Tohari, penulis asal Banyumas, mengungkapkan ketidakberesan perpolitikan Indonesia yang berimbas pada kekacauan pada sebuah daerah bernama “Dukuh Paruk”. Pemanfaatan media budaya ronggeng dalam masa perluasan pengaruh PKI pada masa itu merupakan hal yang diungkapkan secara apa adanya. Pengangkatan tema-tema kedaerahan dan pemaparan “kebrobrokan” sistem menjadi isu baru yang menarik dan menunjang eksistensi sastra lokal. Ini kalau dilihat dari segi tema atau sudut pandang penceritaan. Jika sudah seperti ini, kearifan lokal yang dianggap sebagai tema sederhana ternyata dapat memberikan kesan baru dan segar mengenai presentasi kehidupan dan tampilan rasa pengarang terhadap fenomena sosial. Seharusnya, bukan tak mungkin sastra lokal kalah “gengsi” dari sastra pusat.
Politik sastra di Indonesia berjalan terlalu efektif. Entah sudah disadari atau belum oleh kebanyakan pengarang di negeri ini. Mengapa sastra pusat lebih fenomenal dibandingkan sastra lokal? Apa karena banyak yang meneliti, ideologi yang kuat, atau karena kesegaran temanya?  Dewi Lestari atau “Dee” dengan karya yang demikian, jauh lebih terkenal dan diberitakan secara “wah” di beberapa media online dibandingkan karya Oka Sukanta, yang juga memiliki karya yang patut diperhitungkan. Dalam politik sastra Indonesia, banyak kewajaran yang mereka lakukan berdampak negatif bagi sastrawan potensial lainnya. Mungkin merupakan sesuatu yang “wajar”  bahwa seorang penyair selebriti di media massa mewakili penyair Indonesia dalam berbagai program baca puisi. Bagi mereka, “wajar” bila seorang penulis yang baru menerbitkan cerpennya, dalam setahun dua tahun, diklaim sebagai “monalisa” sastra Indonesia.
Kewajaran yang dipaksa “wajar” itu benar-benar bukan pilihan yang baik. Apa bedanya cerita penindasan yang ditulis oleh Oka Rusmini dan kisah penindasan yang digambarkan oleh “Dee”? Gaya penceritaan oleh Oka Rusmini bahkan jauh lebih ekspresif. Kenapa itu diwajarkan? Inilah yang perlu diperhatikan secara “wajar” oleh para pakar yang menjalankan politik sastra Indonesia.
Mengamati demikian buruknya politik sastra, diperlukan politik atau kebijakan pembinaan sastra yang lebih sistematis. Pembinaan ini berkenaan dengan kualitas sastrawan sekaligus karyanya. Pembinaan ini juga ditimpali oleh pengembangan sastra bahwa politik pengembangan sastra itu seharusnya berisi tentang penempatan karya sastra sebagai sasaran atau objek kegiatan yang akan diteliti dan dikaji. Bukan hanya karena sastra itu lebih publish dibandingkan yang lain, sebagai alasan banyaknya dikaji, namun dari segi isi, kualitas, dan kuantitas, sastra lokal pun mampu, bahkan tak kalah dalam menyajikan fenomena tertentu, seperti kebudayaan, kemanusiaan, dan lain-lain. Inilah yang patutnya diupayakan dan dipertanggungjawabkan oleh para kritikus sastra, pakar sastra, dan peneliti sastra. Dengan demikian, mereka dapat merumuskan fungsi, kedudukan, dan tujuan pengembangan sastra Indonesia masa depan.
Mengingat-ingat perkembangan tumpang tindih kedua sastra tersebut membuatku lupa diri memandangi tumpukan-tumpukan buku berdebu ini dan tanpa kusadari hilir mudik manusia tanpa suara yang di tangannya memegang buku kini hanya tingal segelintir saja. Bahkan, pria tua berkacamata yang tadi sempat melemparkan senyumnya kini tak lagi sibuk membolak-balik lembar demi lembar buku oranye lagi, tapi sibuk menutup gorden-gorden di setiap sudut jendela yang ada dalam bangunan tua ini. Kembali dia menolehku dan tersenyum sambil menganggut-anggutkan kepalanya menyiratkan bahwa tempat ini akan tutup. Meskipun aku gagal mencari buku yang menjadi bahan tugasku, namun aku tetap merasa berhasil karena membawa pulang beberapa buku berdebu yang terjebak dalam kungkungan kelokalannya.
***



BELAJAR DARI KOTORAN AYAM
Sebuah esai kisah karya Agus Sujianto.
Pagi itu aku menyusuri jalan setapak yang masih penuh oleh kristal-kristal embun di setiap dedaunan yang berbaris sepanjang jalan. Aku akan menghabiskan beberapa hari liburanku di sebuah peternakan1 milik pamanku yang berada di kabupaten Tabanan-Bali bersama anaknya atau keponakan laki-lakiku yang usianya dua tahun lebih tua dariku. Disanalah rencanaku untuk menghilangkan rasa penat dari hiruk pikuk kehidupan kampus. Peternakan itu dibangun bebarapa tahun lalu dan kini sudah mempekerjakan setidaknya 7 pemuda setempat. Suara cicit anak ayam dan aroma kotoran ayam menandakan langkahku tak jauh lagi dari peternakan sekaligus kediaman pamanku. Disinilah kuawali sebuah perjalan menarik yang membuat keyakinanku terhadap mahasiswa, atau lebih tepatnya dunia pendidikan mulai goyah bahkan akan runtuh.
Mahasiswa konon adalah kaum intelek yang hidup dengan pengetahuan, moral, etika, dan solidaritas yang tinggi antarsesama, itulah yang membuatku bangga menjadi seorang mahasiswa terlebih mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi negeri. Mereka selalu bangga dengan kehidupan yang serba elit mulai dari gedung-gedung megah yang dibangunkan pemerintah, hingga lipatan jas-jas almamater bekas setrika yang masih jelas terlihat saat dikenakan. Mereka (mahasiswa) sengaja dipersiapkan pemerintah untuk memimpin negeri ini kelak, untuk membangun negeri ini, dan selalu diagung-agungkan menjadi ujung tombak keberhasilan suatu bangsa. Itulah aku, mahasiswa yang selalu bangga menjadi pionir pemerintah dan bangsa ini.
Sesampainya di peternakan aku disambut sebuah peluk hangat oleh pamanku dan senyum manis serta salam dari setiap pekerja yang saat itu masih sibuk membersihkan kandang-kandang ayam. Aku dikejutkan dengan tepukan keponakanku yang kini tumbuh bagaikan seorang bos dengan sepatu bootnya dan beberapa kertas serta kalkulator di tangannya. Dengan sabar dan teliti ia menjelaskan kepadaku satu persatu detail peternakan dan kegiatan rutin di peternakan ini. Ia menjelaskan bagaimana memvaksin ayam yang sedang sakit, memandikan anak ayam, membersihkan kotoran ayam, dan tiba-tiba ia menoleh ke arahku sambil berkata, “ayo cobalah ambil sekup itu dan keruk kotoran ayam di sebelah sana!”. Aku kaget dan terperangah mendengar kata-katanya. Aku tak bisa membayangkan kotoran-kotoran ayam yang berbau busuk dan menyengat ini harus kubersihkan. Ya! Aku mahasiswa dan ini tabu untukku, aku tidak dipersiapkan seperti ini dan aku tak pernah belajar seperti ini, ini hanya akan membuatku sakit karena kuman-kuman dalam kotoran itu. Belum lagi kalau aku kena virus flu burung, belum lagi kalau baju kesayanganku terkena kotoran ayam. “Aku memang tak disiapkan untuk yang seperti ini”, seruku sekali lagi dalam benakku.
Kampus tempatku menimba ilmu saat ini, tidak pernah sekalipun mengajarkan hal-hal menjijikan seperti ini. Aku selalu diajarkan hidup bersih dan sehat, aku selalu senang mendengarkan ceramah dosenku yang selalu bangga dengan perjalanannya keliling Indonesia dalam rangka seminar dan memperkenalkan metode pembelajaran baru atau risetnya, dan aku ingin seperti beliau. Menjadi mahasiswa di salah satu PTN membuatku menghabiskan 75% waktu yang kumiliki untuk di kampus guna kuliah di kelas, rapat organisasi, ke perpustakaan,  mengerjakan tugas-tugas, dan itulah tugas mahasiswa ideal bagiku dulu.
“Ayolah, sekarang kamu keponakanku. Bukan mahasiswa berjas yang harus jaim dan merasa pintar, karena kamu tidak berada di kampus. Kamu berada di peternakan!”, kata keponakanku mengejek. Ejekan itu bagaikan sambaran petir di siang bolong yang tak disangka kedatangannya. Namun, aku berterimakasih karena ejekan itulah yang menyadarkanku bahwa kehidupan kampus selama ini tanpa kusadari telah menciptakan jurang pemisah antara aku dan kehidupan di dunia luar yang begitu indah dan luar biasa. Bagiku, menjadi mahasiswa berprestasi, aktif di berbagai organisasi kampus, dan menjadi mahasiswa kesayangan dosen adalah konsep mahasiswa ideal. Namun, ternyata hal itu salah karena ada hal yang jauh lebih penting untuk dijadikan dasar sebagai konsep mahasiswa ideal, bukan menguasai berbagai teori, bukan menjadi pemimpin sebuah organisasi penting di kampus, bukan karena lulus cumlaude, dan bukan pula karena risetnya didanai pemerintah, akan tetapi lebih kepada kemampuan untuk membaca dunia luar, dunia yang tak pernah kita temui di kelas-kelas gedung megah itu.
Mampu membaca dunia luar, itulah yang diajarkan oleh kotoran ayam kepadaku, sedangkah hal itu tidak pernah sekalipun kudapatkan di kampus, aku hanya diajarkan untuk membaca berpuluh-puluh literatur yang sangat tebal dan disibukkan oleh ideologi-ideologi yang harus kami turuti. Fenomena apa yang sebenarnya diciptakan oleh dunia pendidikan saat ini? Mengapa seseorang yang hanya lulusan sekolah dasar, bisa berhitung dan membaca, bahkan lebih mampu membaca kebutuhan & tantangan zaman, sedangkan beribu-ribu rekanku yang lulus dengan gelar S,Pd., S.Kom., S.S., S.H., S.E., S.IP., S.Sos, S.Psi., S.Ked., S.KG., S.TP., S.Hut., S.Sn., dan masih banyak lagi gelar-gelar lain, kini hanya sibuk membawa surat lamaran kesana-kemari bahkan setingkat lebih tragis dari itu ada yang sampai bunuh diri. Jawabannya ada pada kegagalan mereka dalam membaca tantangan dan tuntutan zaman saat ini.
Lamunanku kembali terpecahkan saat pamanku datang dan berkata, “Buat apa kuliah Nak, hanya buang-buang waktu dan duit saja. Yang ada kamu nanti malah menjadi pengangguran pintar”. Kembali aku disentil dengan kata Pengangguran Pintar. Lalu timbul seribu pertanyaan, mengapa orang pintar menganggur? Apakah zaman sudah tidak membutuhkan orang pintar lagi? Lalu buat apa mereka kuliah?
Kegagalan dunia pendidikan dalam membentuk mahasiswanya mulai tampak saat insan yang dibentuk menjadi orang cerdas atau berintelektual tinggi memiliki jarak dengan dunia luar, mahasiswa akan merasa gengsi saat melakukan pekerjaan orang biasa yang bisa dipelajari tanpa kuliah, ini kenyataan! Tidak hanya itu, kampus tidak pernah mengajarkan mahasiswanya untuk belajar membaca dunia luar. Mahasiswa hanya disibukkan dengan pemahaman dan pendalaman teori-teori kaku yang ada dalam literatur-literatur berdebu, itu realita! Padahal, zaman tidak menginginkan orang cerdas yang tak bisa membaca dunia luar. Zaman lebih memilih orang biasa yang mampu membaca kebutuhan dunia luar, sehingga mampu survive dalam kerasnya kompetisi hidup ini. Pengangguran pintar ada karena mantan mahasiswa atau sarjana-sarjana lulusan PTN/PTS tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan atau teori-teorinya yang didapat dari kampus di dunia luar. Hal ini terjadi karena saat menjadi mahasiswa, mereka tak pernah memiliki kesempatan banyak untuk mengintip dunia luar, sehingga teori yang didapatkan dari literatur-literatur berdebu tersebut tidak sesuai dengan keadaan dunia luar saat ini, alhasil mereka menganggur, ini fakta! Butuh berapa fakta lagi untuk menyadarkan kaum berjas almamater, bahwa saat ini mereka ada dalam kungkungan universitas yang sedang menciptakankan jarak pemisah antara dunia mereka dan dunia luar tempat masyarakat hidup sebenarnya. Aku mulai ragu dengan paradigma yang dianut kampusku setalah mendengar beberapa sentilan pahit mereka dan kotoran ayam yang tak mampu aku bersihkan, karena aku adalah mahasiswa.
Lalu bagaimana menjadi mahasiswa yang ideal? Bagaimana kita bisa membaca tuntutan dan tantangan dunia luar? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan muncul saat kehakikian dunia pendidikan dipertanyakan dan diobrak-abrik. Mahasiswa ideal menurut pandangan bodoh saya adalah mahasiswa yang berhasil di dalam dan di luar kampus ; berhasil saat dan setelah kuliah. Berhasil saat dan setelah kuliah, ini berarti ada dua aspek yang perlu diperhatikan. Aspek pertama adalah berhasil saat menjadi mahasiswa atau dengan kata lain tentu kita harus mempelajari dan memperdalam teori-teori tertentu, aktif di berbagai organisasi, dan bisa lulus dengan predikat mahasiswa berprestasi. Namun, itu semua adalah replika keberhasilan sesungguhnya. Aspek kedua yang menjadi penentu keberhasilan atau keidealan mahasiswa adalah berhasil setelah selesai kuliah (sarjana). Berhasil setelah selesai kuliah atau saat menjadi sarjana kenyataannya lebih sulit apabila dibandingkan dengan keberhasilan saat menjadi mahasiswa, dan kebanyakan pengangguran pintar tercipta pada aspek kedua ini. Hal ini disebabkan seperti yang telah diulas di atas tadi, karena sarjana tidak mampu membaca dunia luar karena saat kuliah hanya belajar di lingkungan kampus, sarjana sangat fanatik dengan kehidupan luar dan sebagainya. Kemudian untuk mampu membaca tantangan serta tuntutan zaman, nampaknya perlu sedikit perombakan terhadap paradigma dunia pendidikan yang berkembang di kampus-kampus saat ini. Hal yang saya maksud adalah kampus seyogyanya tidak hanya mencekoki mahasiswanya dengan teori-teori kaku saja, melainkan juga mengajarkan bagaimana cara mengaplikasikannya di dunia luar. Berbicara masalah mengaplikasikan teori yang diperoleh di kampus pada dunia luar, tentu pihak kampus haruslah berpikir kembali untuk tidak melakukan pembelajaran di dalam kelas saja, tetapi juga di luar kelas pada tiap semester. Kuliah di luar kelas pada tiap semester ini bertujuan untuk mengikuti perkembangan dunia luar, karena dunia luar itu tidak statis perkembangannya. 8 dari 10 mahasiswa yang saya temui (riset sederhana dengan kuisioner) mengatakan lebih suka belajar di luar kelas, karena selain bisa mengaplikasikan berbagai teori yang diperoleh di kampus, dunia luar juga menyediakan pengetahuan yang kompleks dan tidak dimiliki oleh kampus.
Beberapa hari menghabiskan waktu di peternakan aku mendapatkan kuliah yang sebenarnya, kuliah yang tidak pernah kudapatkan di kampus megahku. Saat tulisan ini selesai digarap, aku sudah biasa dan tidak canggung lagi  membersihkan kotoran ayam, karena disanalah jarak yang kumiliki dengan kehidupan luar yang tanpa kusadari tercipta saat aku menjadi mahasiswa sedikit demi sedikit mulai terkikis. Dari kotoran ayam pulalah aku belajar memposisikan diri, kapan menjadi mahasiswa dan kapan menjadi angota masyarakat sosial lainnya karena itulah salah satu poin penting untuk menjadi mahasiswa ideal.
***

 

1. Peternakan Adi Mulya milik Suhermanto di desa Durentaluh-Tabanan.